Tarian Pusaka ‘Beksan Agung’ Warisan Sultan Hamengkubuwono I

186

Yogyakarta- Salah satu tarian pusaka yang dimiliki oleh Keraton Yogyakarta adalah Beksan Lawung Ageng, tari yang menggambarkan adu ketangkasan prajurit bertombak. Beksan Lawung Ageng diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755-1792) yang terinspirasi

perlombaan watangan. Watanganadalah latihan ketangkasan berkuda dan memainkan tombak yang biasa dilakukan oleh Abdi Dalem Prajurit pada masa lalu.

 

Dalam watangan, yang juga dikenal dengan sebutan Seton karena dimainkan tiap hari Sabtu, seorang prajurit akan berkuda sambil membawa tombak berujung tumpul yang disebut lawung. Lawung tersebut kemudian digunakan untuk menyerang dan menjatuhkan lawan. Perlombaan ini dahulu diadakan di Alun-Alun Utara dengan diiringi gamelan Kiai Guntur Laut yang memainkan Gendhing Monggang.

Beksan Lawung Ageng menggambarkan suasana berlatih perang dan adu ketangkasan dalam bermain tombak, sama seperti suasana pada saat watangan berlangsung. Gerakan-gerakannya mengandung unsur heroik, patriotik, dan berkarakter maskulin. Dialog yang digunakan dalam tarian merupakan campuran dari bahasa Madura, Melayu, dan Jawa. Dialog tersebut umumnya adalah perintah-perintah dalam satuan keprajuritan.

 

Beksan Lawung Ageng merupakan salah satu tarian pusaka.

 

Peran dalam Beksan Lawung Ageng
Ada lima peran dalam Beksan Lawung Ageng;  jajar, lurah, botoh, ploncon, dan salaotho. Jajarterdiri dari empat penari, berperan sebagai prajurit muda yang penuh dengan semangat. Dalam struktur keprajuritan, jajar adalah pangkat paling rendah bagi seorang prajurit. Penari yang berperan sebagai jajarmenggunakan ragam gerak bapang yang bersifat gagah dan ekspresif. Lurah juga terdiri dari empat penari, berperan sebagai prajurit yang telah matang. Dalam struktur keprajuritan, prajurit berpangkat lurah menempati posisi di atas jajar. Penari yang berperan sebagai lurahmenggunakan ragam gerak kalang kinantangyang bersifat gagah dan anggun, lebih halus dibanding ragam gerak bapang. Jajar dan lurahinilah yang berperan sebagai prajurit yang berhadapan satu sama lain.

Peran botoh terdiri dari dua penari, berperan sebagai tokoh yang mengadu ketangkasan prajurit yang mereka miliki. Ploncon terdiri dari empat penari, keempatnya bertugas memegang tombak sebelum digunakan jajar atau lurah. Dalam pengertian umum, ploncon adalah perabot yang digunakan untuk meletakkan keris, tombak, atau songsong (payung) dalam posisi tegak. Peran ploncon kadang disebut juga sebagai pengampil. Salaotho terdiri dari dua penari, masing-masing berperan sebagai Abdi Dalem pelawak, yang setia pada masing-masing botoh. Penari yang berperan sebagai salaothomenggunakan ragam gerak gecul yang bersifat jenaka.

BACA JUGA:  KPP Pratama Metro Canangkan Pengembangan Zona Integritas Menuju WBK

( Red / Dha / Bersambung )