Predator ‘Pancasilais’ 2019

101

 

 

Oleh : Sutan Aji Nugraha

Penulis adalah pengamat politik dan bermukim di Kota Cirebon,Propinsi Jawa Barat.

…………………………………………………………..

Sebuah stigma yang disandang oleh republik burung garuda yang berisikan hampir sebagian koruptor dan itu tanpa disadari telah membelenggu bangsa ini dari setiap kemajuan zamannya, persaingan global, arus modernisasi dan demokrasi. Maka, koruptor secara langsung telah memperkosa hakikat nyata daripada burung garuda sebagai dasar negara yang telah dirumuskan dalam Pembukaan Konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”.
Koruptor tak hayal mengambil kontrak sosial dari masyarakat yang merupakan hutang negara, yakni “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indoensia dan memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”.
Disadari maupun tidak, hakikatnya koruptor telah memakan keadilan, kemanusiaan dan kerakyatan, tak lebih dan bukan adalah sifat dasar hewani. Dengan begitu maka dapat dikatakan sebagai predator pancasilais yang berada dikisaran kekuasaan, sehingga menghiasi dinding kantor lurah, camat, bupati/walikota bahkan presiden sekalipun. Bila sudah begini keadaannya, maka sang predator pancasilais akan melakukan hubungan-hubungan haram yang kelak akan menghasilkan anak haram.
Pada dasarnya koruptor atau predator pancasilais memiliki kecerdasan yang luar biasa, seperti yang pernah kita dengar keseharian, gimana bisa membuat manipulasi jika tidak cerdas karena orang bodoh tidak akan mampu memanipulasi. Dengan begitu, kecenderungan sifat dasar hewani akan muncul apabila telah menduduki kursi pemegang kebijakan, tidak selalu puas akan dirinya sendiri, sudah kenyang tetapi masing ingin memangsa apabila kesempatan di depan mata. Mereka memiliki kecerdasan hedonis yang bermain lalu dengan gesitnya mencuri peluang diantara lemahnya aturan hukum dan perundang-undangan.
Sebenarnya, predator pancasilais telah menggeroti bangsa ini sejak hampir kurang lebih 32 tahun dimana pada rezim yang terkenal dengan kesaktian pancasilanya telah berubah wujud, telah menjelma sebagai predator pancasilais secara langsung maupun tidak. Terbukti, kelanggengan yang telah diciptakannya telah merebut kekuasaan-kekuasaan penuh rakyat, dengan dibubarkannya partai-partai ideologi secara berangsur-angsur, membuang kanal-kanal demokrasi bahkan terlebih telah membuat cerita fiksi diantaranya.
Selama bekuasanya rezim ini telah membuat salah satu partai politik dijadikan alat pelanggengan kekuasannya. Disanalah semua unsur menjadi satu karena perihal kepentingan tercapai. Dan dari sana pula-lah juga tercipta gagasan untuk pancasila dijadikan alat penghantam kaum oposisi, yang dikategorikan tidak pancasilais (subversif). Tidak ada demokrasi yang artinya kontrol daripada kaum oposisi pemerintah yang diwakilkan partai-partai yang duduk di perwakilan rakyat. Karena pada intinya, rezim ini menciptakan demokrasi semu, pemilu yang telah kehilangan essensinya, rakyat tidak memiliki ideologi lain, selain pancasila.
Dengan begini, akibatnya pilihan partai-partai politik dapat mudah ditransaksikan karena rakyat menilai bahwa semua partai sama, yakni berazaskan pancasila, tidak ada partai ideologi lainnya sehingga tak ada acara untuk mengkritisi pembangunan dan sistem ketatanegaraan selama rezim itu. Inilah bagaimana cara pemerintah melakukan manuver-manuvernya dengan sangat mudah, penggiringan terhadap salah satu partai politik, settingan pola pikir linear, yang artinya rakyat digiring untuk memilih sesuai keinginan stakeholdernya.
Awal mula predator pancasilais tumbuh dan berkembang lantas menyempurnakan secara diri, kelompok dan kecerdasan-kecerdasan sesuai dengan perkembangan dari rezim demi rezim. Sekarang, makin banyak predator pancasilais yang tak dapat dipungkiri menggunakan partai politik sebagai alatnya. Dikutip dari pernyataan salah seorang kuasa hukumnya, jika kliennya akan datang di republik ini, maka NKRI akan runtuh, dikarenakan masih banyak pemimpin-pemimpin kita menjadi predator pancasilais. Dengan kalimat tersebut dapat diisyaratkan bahwa republik ini di isi dan dikuasai predator pancasilais ataukah anak-anak haramnya.
Sudah saatnya rakyat disadarkan menjadi pemilih gambar calon menjadi pemilih ideologi. Biarkan ideologi kapitalis muncul, biarkan ideologi sosialis berdiri, dan biarkan ideologi agamis berkembang sabagaimana mestinya, karena dengan kebebasan berserikat itulah menjadi imunisasi terhadap kesaktian pancasila yang sesungguhnya. Dan juga, semakin mengejawantahkan kepada kita sendiri secara langsung atau tidak bahwa yang busuk itu ideologinya ataukah orangnya.
Karenanya sudah saatnya pula kita harus keluar dari settingan rezim-rezim yang busuk, yang penuh dengan aneka dan variasi topeng, yang tak lain dan tak bukan hanya kesamaan visi dan misi yang terjadi, kekuasaan kepentingan, pencitraan-pencitraan agar dipilih kembali, dan hanya bergeliat dalam hal-hal itu saja. Semua koalisi partai politik hanya sebuah ajang taktis menuju kekuasaan, menuju kepentingan dan menuju kekayaan.
Inilah sebuah perubahan yang nyata bagi para predator untuk dibrangus sampai ke liangnya. Ideologi partai tak sama dengan ideologi negara. Ideologi negara tetap satu, yakni Pancasila, namun ideologi partai politik dapat bermacam-macam sesuai dengan aliran filsafat kehidupan yang berkembang di dunia. Jika ideologi negara diubah, selalu bersama tetap mempertahankannya, walaupun pancasila saat ini tetap menjadi hiasan-hiasan dinding kantor, rumah sakit, ruang-ruang kelas hingga dada politisi/politikus.

BACA JUGA:  Hubungkan Pulau Yamdena dan Pulau Larat, Pemerintah Bangun Jembatan Wear Arafura

…………………………………
No.HP : 081222212984