Petani Kopi di Kaki Gunung Manglayang ‘Merajut Asa’

182

 

Oleh : Wendy Hartono

Penulis adalah aktivis PRD dan bermukim di Jawa Barat.

……………………………………………………..

Siapa yang tidak kenal dengan Tahu Sumedang yang sudah terkenal dimana – dimana sebagai produk Industri Rumah tangga dari Kabupaten Sumedang memiliki cita – rasa tersendiri dibandingkan tahu buatan daerah – daerah lainnya di Indonesia.

Sumedang juga merupakan Kabupaten yang menjadi Pusat Pendidikan di Provinsi Jawa Barat sebagaimana kita lihat banyak berdir bangunan Perguruan Tinggi Universitas – Universitas Negeri di Kabupaten Sumedang seperti UNPAD, IPDN, UNWIM dan ITB yang baru saja didirikan tahun 2013-an membuka Fakultas – Fakultas Baru dari Kampus yang berpusat di Jalan Ganesha Bandung.

Beberapa kali pertemuan dengan Kang Dewa Seorang Petani dari Desa Genteng, Kecamatan Sukasari Kabupaten Sumedang, Seorang Petani yang menggarap lahan di pinggir – pinggir hutan Gunung Manglayang dari Beliau saya banyak Belajar dan mengetahui Kehidupan penduduk Kabupaten Sumedang yang rata – rata mengolah lahan tanah pertanian ditanami kopi, sayur – mayur, tembakau, Umbi – umbian dan buah – buahan semenjak tahun 1980-an dan diwariskan budaya bercocok tanam ini secara turun – temurun dari pendahulu mereka.

Menurut, Kang Dewa tidak sepatutnya Masyarakat Sumedang menyandang predikat Kabupaten termiskin kedua setelah Indramayu, tidak seimbang dengan potensi alam yang dimiliki didaerah ini.

Kabupaten Sumedang yang menjadi salah satu kabupaten penghasil pertanian, cukup besar menyumbang Pendapatan Daerah dari bidang Pertanian, disebabkan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah tidak menunjang kebutuhan masyarakat Sumedang, lebih mendukung pengembang masuk menanamkan investasi untuk kepentingan bisnis mereka di Kabupaten Sumedang.

Kang Dewa juga mengatakan bahwa adanya industri – industri rumah tangga memproduksi tahu, bukan karena banyaknya Petani kedelai di Kabupaten Subang, hanya sebagian kecil petani di Sumedang menanam jenis tumbuhan kedelai, kedelai lebih banyak didatangkan dari luar daerah, bahkan di import dari luarnegeri, Sumedang cuma menjadi tempat pembuatan saja.

BACA JUGA:  Kecam Keputusan AS, Presiden Jokowi Desak Negara Lain Tidak Pindahkan Kedubesnya ke Yerusalem

Selanjutnya, Kang Dewa menceritakan awal mula Beliau menanam kopi atas inisiatif sendiri menanam kopi untuk bisa mendapatkan pendapatan lebih, karena jika mengandalkan tanaman sayuran dan tembakau harga dipasar tidak pernah stabil, harga lebih dimainkan oleh para pengepul, sedangkan petani tidak bisa menentukan harga terkadang lebih banyak petani merugi.

Pertama kali, Kang Dewa menanam kopi mendapat cemoohan dan tertawaan dari orang – orang disekelilingnya dianggap bermimpi disiang hari bolong, bisa memetik keuntungan kopi yang proses penanamannya kurang – lebih dua tahun.

kapan bisa hasil bisa dinikmati yang memakan waktu lebih lama masa pertumbuhannya dibandingkan menanam sayur dalam waktu tiga bulan sudah bisa membuahkan hasil.

Dengan giat Kang Dewa berjuang tidak memikir apa omongan orang dan akhirnya Beliau bisa menunjukkan kepada semua orang buah karya tangannya yang menjadi banyak pembicaraan orang tersebut.

Kini berjalannya waktu hak itu telah membuahkan hasil yang baik dan memiliki nilai jual tinggi dan pada akhirnya petani – petani di Desa Genteng tempat tinggal Kang Dewa mengikuti menanam bibit kopi yang dulunya menjadi cibiran orang lain.

Untuk menguatkan cara produksi dan pemasaran Kang Dewa mendirikan Koperasi bernama ,”Berdikari,” salah satu kalimat Trisakti Bung Karno yakni, Berdiri Diatas Kaki Sendiri.

sebagaimana Kisah Kang Dewa memperjuangkan kehidupan sebagai petani kopi secara Mandiri, berusaha tidak mengantungkan hidup kepada siapapun sekali pun itu pemerintah selaku penyelenggara.

Beliau menganggapnya sudah tidak bisa dipercaya lagi, walaupun pemerintah diciptakan untuk memajukan dan mesenjahterakan masyarakat, tapi pada kenyataanya tidak demikian.

Dari pengalaman Kang Dewa tersebut menjadi catatan berharga buat saya, sebuah pelajaran berharga berada di Organisasi Gerakan Petani Serikat Tani Nasional (STN) Jawa Barat, dari perjuangan hidup petani lebih tau situasi dan kondisi dilapangan dibandingkan Saya belajar dari buku – buku teori sosial tentang gerakan petani,sedang Kang Dewa terjun langsung praktek dilapangan tanpa mendapatkan Sekolah Formal tapi bisa berhasil mempelopori petani Desa Genteng dengan menanam kopi, bagi Saya apa yang dilakukan Kang Dewa adalah sebuah tindakan gerakan Revolusioner.

BACA JUGA:  Baca ! Ketua PRD Palu Kecam 'Akal Akalan' Iuran BPJS

Bagi, Saya Kang Dewa adalah Sokoguru Revolusi yang harus dijadikan figur seorang petani bisa memperbaiki taraf hidup petani melalui tanaman Kopi yang menjadi minuman populer di Indonesia, bahkan didunia minum kopi sudah menjadi budaya tua – muda dimana pun berada dan harus terus dikembangkan menjadi gerakan petani secara nasional menanam sebagai perlawanan terhadap imperialisme dan kapitalisme di abad 21 ini sudah berganti bulu dengan nama neoliberalisme.