‘ Momen Terindah ‘ Hari Raya Idul Adha di Dusun Bunikasih

169

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh : Wendi Hartono

Penulis adalah ketua Kpw STN Jawa Barat

……………………………………………….

Pada hari Idul Adha tahun 2012 tidak seperti biasanya merayakan hari besar Umat Islam ini, kumpul bersama keluarga dirumah atau mengunjungi sanak – famili terdekat, sambil menunggu pembagian daging pemotongan hewan kurban entah itu daging kambing atau daging sapi dua jenis ekor hewan biasa dijadikan sembelihan hari Idul Adha, pada waktu itu merayakan Idul Adha dengan cara berbeda dari tahun – tahun sebelumnya,lebih memiliki arti dan makna tersendiri.

Ketika itu Saya sedang berkunjung kesekretariat KMPA Ganesha ITB Bandung sebagaimana tradisi Pecinta Alam saling mengunjugi sesama Organisasi Pecinta Alam untuk menjalin tali silahturahmi dan ikatan persaudaraan baik ditingkat kampus (Mapala) SLTA (Sispala) Dan Pecinta Alam Umum (KPA), biarpun Organisasi Saya Sukarelawan Montana tidak masuk kedalam kategori tersebut sifatnya lebih Kevolunteeran Mitra Kerja Sejajar Taman Nasional Gunung Gede – Pangrango (TNGGP), tapi masih dianggap satu rumpun Keluarga Organisasi Penggiat Alam Bebas.

Bertepatan dengan diselenggarakan Temu Wicara Kenal Medan (TWKM) di Kampus UPI bandung sebagai Tuan Rumah tahun 2012, acara tahunan Mapala se – Indonesia sebagai ajang pertemuan seluruh Pecinta Alam di Indonesia berbasis Universitas dan tingkatan Perguruan Tinggi, membahas persoalan – persoalan mendasar Mapala dari sisi keilmuan, sistem pendidikan dan latihan sampai merumuskan program – program bersama secara terpusat di namakan Pusat Koordinasi Nasional (PKN) sebagai media Informasi dan Komunikasi kemasing – masing daerah Tingkat provinsi melalui Pusat Koordinasi Daerah memayungi Mapala – Mapala sekitarnya.

Dengan adanya momen TWKM tersebut disekretariat KMPA Ganesha ITB, Kawan – kawan Mapala dari berbagai daerah hilir – mudik, bahkan bermalam saling bertukar pikiran dan berbagi pengalaman menjalankan Program – Program Organisasi seputaran ekspedisi serta pengabdian terhadap masyarakat yang berhubungan dengan lingkungan hidup.

KMPA Ganesha ITB sendiri memilki Program Kerja Pegabdian Masyarakat dan sudah ada Desa yang didampingi yakni, Dusun Bunikasih sebuah Kadusunan terpencil penduduk di Desa Cupunagara kecamatan Cisalak perbatasan antara Kabupaten Subang dan Kabupaten Bandung Barat diapit tiga gunung – bebukitan, gunung Sanggah, Gunung Geulis dan Gunung Gede nama yang sama dengan tempat saya beraktifitas sebagai Volunteer Kawasan Konservasi TNGGP.

Kebetulan kawan – kawan KMPA Ganesha ITB akan berangkat ke Dusun Bunikasih Kadusunan yang menjadi daerah dampingan KMPA Ganesha ITB tersebut, berangkat kesana pada sore dengan mengendarai motor saling berboncengan Kawan – kawan KMPA Ganesha ITB mengajak serta Saya, SB Qmel Mapala UKI Paulus Makasar dan Zidni Ilma Mapala Kalimantan Barat untuk melihat langsung kondisi kehidupan penduduk Dusun Bunikasih, tidak lain dan tidak bukan mata pencarian mereka adalah petani penggarap pinggiran hutan.

BACA JUGA:  Matta Institute , Wujudkan Daerah Anti Korupsi , serta keterbukaan Informasi Publik jangan Setengah Hati

Sedangkan kawan – kawan dari KMPA Ganesha ITB sendiri Afan, Epin, Emil, Inda, Usi, Hafsah, Herry, Nurul dan Gian, kami berjalan cukup panjang menanjak menysuri hutan – hutan yang mulai gelap memasuki malam hari hujan turun tiada berhenti sepanjang perjalanan, semakin mendekati lokasi tujuan jalan – jalan kesamping kanan – kiri seluas 3 meter dapat dilalui kendaraan roda empat mobil, lintasan jalur beraspal semakin hilang hanya ditemukan susunan batu – batu kerikil dilindasi ban roda dua motor yang kami kendarai, tiada nyala lampu menerangi selain tembakkan lampu motor – motor rombongan, setelah tiba dirumah Kepala Dusun Bunikasih Pak Yayat namanya, berdasrkan informasi dari Pak Yayat, saya ketahui jika Dusun Bunikasih dan dusun – dusun lainnya di Desa Cupunagara belum mendapat penerangan listrik.

Sungguh memprihatinkan keadaan Dusun Bunikasih, pembangunan infrastruktur jalan kurang baik, belum mendapat penerangan listrik dan hampir semua penduduk disana hanya tamatan SD, karena sarana pendidikan tersedia hanya bangunan sekolah SD, sedangkan untuk melanjutkan kejenjang SLTP dan SLTA harus melewati beberapa Desa, fasilitas kendaraan umum hanya ada ojeg motor dan mobil – mobil pengangkut sayuran milik pengepul – pengepul hasil pertanian dari para petani Dusun – dusun Desa Cupunagara.

Saya, SB Qmel, Zidni Ilma dan Kawan – kawan KMPA Ganesha ITB merayakan malam Takbiran di Rumah Kepala Dusun Bunikasih diterangi cahaya lampu redup lima watt aliran energi listrik tenaga surya bertahan paling lama enam jam, memaksa kami memejamkan mata lebih awal dari biasanya ketika ada sekretariat begadang sampai hari menjelang pagi ngobrol – ngobrol,nyanyi – nyanyi sambil main gitas, bermain game online atau chat dan menulis status Facebook dan tweteran menggunakan komputer dan laptop aktifitas sehari – hari disekretariat, sudah menjadi budaya kawan – kawan Mapala jika tidak pergi kelapangan mendaki gunung, Olahraga Arus Deras (ORAD), Susur Goa, berbeda ketika kita berada ditengah – tengah masyarakat harus mengikuti ada – istiadat masyarakat setempat sesuai bunyi kode etik Pecinta Alam Indonesia.

Keesokan harinya kita bersama penduduk Bunikasih melakukan shalat Id berjamaah di Musholah berukuran seluas rumah penduduk cukup menampung jamaah Shalat kurang dari 50 orang, kemudian menyembelih hewan korban sumbangan kawan – kawan KMPA Ganesha ITB sebanyak 3 ekor dibeli dari hewan peliharaan warga Bunikasih disaksikan penduduk kurang dari 30 orang anak – anak dan ibu – ibu rumah tangga dan bapak – bapak petani hanya terdiri kurang lebih 7 KK jarang penghuni rumah – rumah penduduk juga saling berjauhan, terhampar luas petak – petak sawah jarak menanjak terjal, pohon – pohon aren (Kaum) diantara kawasan perkebun teh dan hutan wilayah kerja Perhutani.
Saya mencoba menelusuri sejarah Dusun Bunikasih lusa setelah hari raya Idul Adha berakhir bersama Epin dan Emil menemui orang paling tua di Dusun Bunikasih kira – kira berusia 120 tahun, bisa dikatakan pelaku Sejarah Dusun Bunikasih, kami anggap orang paling tepat untuk dijadikan nara seumber sejarah Dusun bunikasih.

BACA JUGA:  Dana Desa Solusi Untuk Menekan Angka Kemiskinan dan Stunting

Beliau sudah tidak bisa berdiri tegak, hanya mampu duduk bersandar pada dinding bilik rumah, saat kunjungi kerumahnya dalam perawatan cucu dan cicitnya untuk melakukan segala hal. Karena diantara kami bertiga saya paling lancar berbahasa Sunda jadi saya bertugas memwawancarai Kakek tua itu, Epin merekamnya dengan menggunakan telpon selular Handphone dan memminta Saya nannti setibanya di Bandung ditermahkan kebahasa Indonesia untuk dijadikan dokumentasi laporan kegiatan Live In selama tiga hari di Dusun Bunikasih.

Beliau berbicara dengan suara parau agak kurang jelas didengar, Beliau mengaku mantan seorang veteran perang kemerdekaan turut serta perang gerilya melawan Tentara Belanda,semenjak kanak – kanak Beliau tinggal dan hidup sampai berkeluarga di Dusun Bunikasih yang sudah menjadi areal perkebunan teh milik Tuan Hofland seorang penguasa Subang diera pemerintahan kolonial Belanda, tidak sebutkan tahun berapa pertama kali kawasan Bunikasih pertamakali dijadikan areal perkebunan Oleh Tuan Hofland, Beliau mengatakan jika di Desa Cupunagara masih banyak peninggalan Tuan Hofland berupan bangunan pabrik arsitektur Belanda di Dusun Bukanagara, kampung sebelah Dusun Cupunagara.
Di Desa Cupunagara inilah pernah dijadikan tempat persembunyian Pemberontak DI/TII pernah pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, Bung Karno menyebutnya dengan gerakan kontra – revolusi, Beliau juga sempat menceritakan kekejamanan DI/TII, jika pasukan Pemberontak DI/TII turun gunung dimalam hari mendatangi rumah – rumah warga, meminta paksa milik warga entah itu ternak, pakaian, padi yang disimpan dilumbung milik warga, sempat terjadi pembakakaran rumah – rumah penduduk Dusun – Dusun sekitar Desa Cupunagara oleh Pemberontak DI/TII.

Menurut Beliau orang – orang dari berbagai daerah juga sering datang ke Desa Cupunagara untuk berkunjung menziarahi makom Eyang Mangkunegara seorang penyebar Islam daerah sekitar Kabupaten Subang entah asal – usulnya darimana beliau tidak memberikan penjelasan, Cuma menurut Beliau banyak para pejabat mengunjungi makom tersebut yang letaknya ditepi Danau Cipabeasan dipercaya warga sebagai tempat keramat di Desa Bunikasih.

BACA JUGA:  Situs Purbakala " Pugung Rahardjo " Sebuah Kearifan Lokal Lampung Timur Harus Terjaga

Selesai mewawancarai Beliau kami pergi kelokasi sawah – sawah milik warga untuk melihat secara langsung cara bercocok tanam warga dengan kepemilikan hitungan tumbak atau dalam hitungan meter sekitar ukuran luas 14 meter x 14 meter persegi, selain menanam padi, warga Dusun Bunikasih menanam tanaman kopi, arendan jenis – jenis tanaman palawija sebagai komoditas asli pendapatan Dusun Bunikasih yang semuanya memang adalah petani penggarap memanfaatkan lahan – lahan pinggiran hutan wilayah kerja Perhutani dan areal perkebunan – perkebunan teh PT peninggalan Tuan Hofland dipinggir jalan Cisalak – Cupunagara menjadi warisan Tuan Hofland diberi nama jalan Pedati dibangun pada tahun 1847 oleh Perusahaan teh P n T milik Tuan Hofland.

Lima angkatan sudah KMPA Ganesha ITB melewati malam takbiran dan perayaan Hari Besar Idul Adha di Dusun Bunikasih, menyisakan kisah tersendiri bagi saya, terdengar kabar – berita Kakek Tua yang pernah Saya wawancarai sudah meninggal dunia dua bulan setelah Saya dan Kawan – Kawan KMPA Ganesha ITB Live In disana, sudah tidak tahu juga kelanjutan Program Pengabdian masyarakat Kawan – Kawan KMPA Ganesha ITB di Dusun Binkasih, Saya juga sudah jarang berkunjung kesana semenjak Kampus ITB memberlakukan aturan jam malam, Kegiatan Mahasiswa dibatasi hanya sampai Jam 10 malam dikampus, banyak orang aturan jam malam di ITB merupakan NKK/BKK gaya baru pada tahun 2014 sebelum Jokowi terpilih Presiden Republik Indonesia.

Terbersit dihatik ingin datang kembali ke Dusun Bunikasih yang telah memberikan berarti bagi Hidup Saya, apalagi saat ini Saya beraktiftas di Serikat Tani Nasional (STN) Jawa Barat bersama Kelompok Kerja (POKJA) Jawa Barat mengawal Program Perhutanan Sosial (PS), mendampingi Kelompok – Kelompok Petani penggarap lahan diwilayah Kerja Perhutani mengajukan tanah garapan untuk dikelola langsung oleh masyarakat sebagai Mitra Kerja Pemerintah dengan bagi hasil saling menguntungkan kedua belah pihak, sebuah Program Pemerintah cocok untuk dijalankan di Dusun Bunikasih dan Dusun – Dusun lainnya di Desa Cupunagara daerah terpencil perbatasan antara Kabupaten Subang dan Kabupaten Bandung Barat itu masih dibilang terbelakang butuh peran banyak pihak mengembangkan dan mensejahterakan kehidupan masyarakat yang tinggal disana.