Matta-Institute: Rakyat Indonesia Tolak, Campur Tangan Asing Untuk Atasi Terorisme

1382

METRO, Inspirasi Post – Direktur Executif Masyarakat Transparan Institute (Matta-Institute) Kota Metro, Yudha Saputra menulis kometar yang di tujukan ke Presiden Joko Widodo, melalui akun fecebok miliknya menolak tegas tawaran negara asing dalam penanganan terorisme. Pasalnya, Polri di bantu TNI masih mampu menangani sendiri dan belum perlu bantuan pihak lain.

“Kita harus mempertimbangkan kembali niat baik sejumlah negara untuk ikut menuntaskan terorisme di Tanah Air. Menurutnya, berbagai lembaga negara dan instansi tekait lainnya di Indonesia masih mampu menyelesaikan permasalahan yang menyangkut terorisme dan belum perlu melibatkan bantuan dari negara-negara tetangga,” tegas Direktur Executif Matta-Institute Yudha Saputra kepada Inspirasi Post,” Kamis (17/05/2018).

Direktur Executif Matta-Institute Kota Metro, Yudha Saputra menulis kometar yang di tujukan ke Presiden Joko Widodo, melalui akun fecebok miliknya menolak tegas tawaran negara asing dalam penanganan terorisme.

Lebih lanjut Yudha Saputra mengatakan, pihak Pemerintah Indonesia melalui aparat keamanan, yakni Polri, TNI, BIN dan lainnya masih mampu bekerja sama untuk menuntaskan masalah teroris, serta tidak perlu campur tangan pihak asing.

Yudha Saputra menyebutkan, pasca ledakan bom bunuh diri di depan Gereja Santa Maria, Ngagel Surabaya, Jawa Timur dan Mapolrestabes Surabaya yang dilakukan terduga terorisme dalam waktu beberapa jam saja, aparat kepolisian telah berhasil menuntaskan kasus tersebut.

Hal tersebut merupakan bentuk keberhasilan, kinerja yang bagus dilaksanakan Polri dan instansi terkaitnya dalam mengatasi aksi terorisme itu. Bahkan, jelas Yudha, petugas keamanan dalam waktu yang cukup singkat berhasil melumpuhkan terduga teroris yang melakukan penyerangan di markas Kepolisian Daerah Riau, Rabu pagi, (16/05/2018) dan 4 orang teroris tewas,” ujarnya.

Masih di katakan Yudha, ini bentuk keseriusan dan profesionalisme Polri dalam menuntaskan kasus-kasus terorisme yang terjadi di Indonesia. Menurutnya, Indonesia tidak boleh didikte negara luar dalam penanganan terorisme, karena cara-cara yang dilakukan pihak asing jelas tidak sama dengan Indonesia.

BACA JUGA:  Mapas !?!, Dua Kader Terbaik Jadi Pengurus Pusat PB HMI 2018 - 2020, Seluruh Pengurus Cabang Metro Beri Apresiasi Positiv

“Cara pandang negara asing, tentang siapa yang dianggap teroris, bisa saja menimbulkan perbedaan. Sehingga, penanganan kasus tersebut tidak dapat dituntaskan seperti yang diharapkan. Indonesia masih mampu menyelesaikan sendiri kasus terorisme tersebut,” tegas Yudha.

Menteri Luar Negeri, Inggris Boris Johnson.

Berita sebelumnya, Amirika Serikat dan Ingris siap membantu Indonesia dalam memerangi setiap tindak terorisme yang terjadi. Hal itu diungkapkan oleh Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson melalui cuitan di akun twitter resminya.

Melalui akun @BorisJohnson, Ia memastikan bahwa Inggris siap untuk membantu Indonesia dalam memerangi tindak terorisme dalam berbagai cara yang memungkinkan. Selain itu, aksi biadab para pelaku teror yang merupakan jaringan ISIS juga mendapatkan kutukan darinya.

“Shocked by news of further attacks in Surabaya today, following Sunday’s appalling attack in worshippers attendinh church. The UK stands ready to help Indonesia in the fight against terrorism in any way it can,” cuit Menteri Johnson.

Sebelumnya, Duta Besar Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik juga mengungkapkan hal yang sama. Melalui cuitannya, Duta Besar Malik turut berduka bersama segenap masyarakat Indonesia.

“Turut berduka cita atas jatuhnya korban teror thd umat Kristen di #Surabaya. Kami mengutuk terorisme di manapun. Serangan ini tdk dpt dibenarkan & semua agama mengutuknya. Doa kami menyertai keluarga korban, semoga diberikan kesabaran. #BersatuLawanTerorisme #KamiTidakTakutTeroris,” cuit Duta Besar Malik pada akun resminya, @MoazzamTMAlik.

Sebagai informasi, Inggris juga tidak luput dari serangan aksi teror yang dilakukan oleh ISIS/teroris. Beberapa negara di Benua Eropa lainnya pun, juga turut menjadi target. Hanya saja, beberapa waktu terakhir, nampaknya Indonesia menjadi sasaran utama bagi kelompok teroris berkedok agama tersebut. (Ipung/Red)

Editor: Purwadi

Purwadi Ardi (PIMPINAN REDAKSI)