Kadir, Potret Miris Pedagang Taman Kota Pasca Relokasi

528
Rombongan bersama Kadir, warga 22 Hadimulyo yang kehilangan matapencaharian

Kota Metro, Inspirasi Post-Raungan mesin membawa badan mobil menyusuri gang sempit 22 Hadimulyo. Empat roda yang bergesek dengan tanah kering kerontang menyisakan debu beterbangan di belakangnya. Rumah-rumah “berbedak’ debu di sisi dan kanan jalan menandakan musim kering tak kunjung usai.

Mobil berhenti di sebuah rumah sempit, “telanjang” berbata merah tanpa semen penghalus. Mobil diparkirkan di badan jalan karena rumah  tanpa halaman. Empat orang turun dari mobil itu.

Rumah itu adalah milik Kadir (32), panggilan akrab seorang lelaki paruh baya berbadan sedikit kurus berambut putih. Saat kami masuk rumahnya, kami disambut dengan ramah, tangan kami mengulur memegang tangan Kadir untuk meminta salaman, ya, Kadir memang mengalami kelainan penglihatan, dia mengalami kebutaan.

Dengan kondisi demikian, Kadir tak lagi bisa mencari nafkah, kini satu-satunya tulang punggung keluarga Kadir hanyalah istrinya, Ani, wanita paruh baya penjual somay di taman kota. Ani pun juga mengalami kekurangan fisik, kakinya pincang.

Sebelum kami datang ke rumahnya, kami sudah mendapat banyak cerita mengenai kondisi diri dan keluarga Kadir. Dari soal ekonomi hingga kondisi fisiknya. Saat kami mendapat cerita tentang kondisi Kadir hari ini, salah satu dari kami berempat, terketuk hatinya dan langsung tergerak untuk mendatangi rumahnya, “Saya khawatir banget bang, siapa tahu dia hari ini belum makan. Udah kita langsung ke rumahnya aja, kita tengok kondisi dia,” ungkapnya.

Di rumah Kadir, kami berbicara dari hati ke hati kepada Kadir, dia menceritakan tentang kondisi keluarganya, kami melihat gelegat ketabahan dalam  diri Kadir, dalam kondisi kesusahan seperti itu, bahkan Kadir menghindarkan diri berpangku tangan dari tetangga dan keluarganya sendiri. Ini menurut penuturan salah satu satu tetangganya yang akrab kami sebut “Bunda’

BACA JUGA:  Hi. Suparni Hadi, Spd: MKKS Kota Metro Maksimalkan Persiapan UNBK

“Kadir itu buta mas, dia udah nggak kerja lagi, istrinya yang kerja, itupun istrinya pincang. Dia kerja jualan somay. Nggak kebayang dia susahnya narik gerobak dari rumahnya ke taman kota. Apalagi sekarang nggak boleh jualan, makan dari  mana mereka?” curhat Bunda, tetangga Kadir yang tahu persis keseharian Kadir.

Karena kebijakan pemerintah merelokasi dan “membersihkan” taman kota dari pedagang kaki lima, otomatis membuat mata pencaharian keluarga Kadir tergerus, tereleminasi. Kini istrinya absen dari berjualan karena omsetnya turun drastis dan tempat baru tidak memadai untuk menampung semua pedagang. Dari manakah kini Kadir bisa membuat dapurnya tetap mengepul?

“Kalau ada tetangga yang punya kerjaan rumahan, biasanya minta tolong sama Kadir, ya sebatas kemampuan Kadir dengan kondisinya yang begitu. Biasanya tetangga ngasihnya lebih,” ungkap Bunda menceritakan kesaksiannya.

Lahan yang ditempati untuk membangun rumah Kadir bahkan belum lunas, “Lahan itu udah saya kasih  murah mas, saya tahu kondisi dia, bahkan sampai sekarang belum lunas, saya kasih keringanan ke dia semampunya,’ tambah Bunda.

Tak kuasa menahan haru mendengar dan melihat langsung kondisi kadir dan keluarganya, air mata perlahan membasahi pipi kami. salah satu dari menangis tersedu-sedu. Tangispun pecah di ruang tamu Pak Kadir.

“Pak kadir, ini yang bisa kami bantu buat Pak Kadir, semoga bisa bermanfaat, bisa buat makan, bisa buat bayar kebutuhan hidup,” ujar salah satu dari Kami, pemuda berinisial “G”, dia keluarkan bantuan dari kantong pribadinya. “Murni saya bantu buat Pak Kadir lilahita’ala, lain waktu kalau ada rejeki saya bantu lagi ya Pak Kadir,” ungkapnya.

Ini hanya sekelumit kisah tentang hilangnya mata pencaharian warga akibat kebijakan pemerintah yang dinilai tidak pro-rakyat. Ada kisah-kisah kecil menggugah perasaan lain yang belum terekspose oleh media dan banyak yang tidak mengetahuinya. Pak Kadir hanyalah sebagian kecil pedagang yang terhempas dari ruang mencari nafkah.

BACA JUGA:  Pelayanan Publik Tetap Jalan, Presiden Jokowi Tetapkan Cuti Bersama PNS Tahun 2018

Siang itu sambil terisak-isak kami pamit meninggalkan rumah Pak Kadir dan keluarganya. “Semoga adek jadi presiden ya?” ujar salah satu dari kami kepada anak Kadir, berharap semoga kelak lahir generasi perjuangan yang bisa mengangkat derajat dan martabat Kadir.

(Tomi Nurrohman/red)