Hilangnya Sebuah Tradisi Ramadhan ” Tergerus Arus Jaman “

221

R amadhan yang ditunggu-tunggu bagi semua kalangan, tidak terkecuali anak kecil. Ketika berbincang dengan salah satu anak generasi milineal sd kelas 4 bernama rafa dimasjid saat waktu menjelang sholat isya hari jumat 10 mei 2019 dimasjid Al huda didesa way galih kecamatan tanjung bintang Kabupaten Lampung
saya bertanya dik enggak ada kegiatan menulis agenda ramadhan,
Rafa menjawab Enggak ada kak, disela perbincangan singkat itu saya ceritakan generasi tahun 2000 an Ramadhan adalah waktu yang menyenangkan karena bertemu dengan teman-teman akan lebih banyak dikarenakan banyak kegiatan yang akan dilalui bersama seperti mengaji, buka bersama atau lebih dikenal dengan (bukber) , hingga shalat tarawih. Dengan begitu, saya mempunyai waktu yang lebih banyak untuk bermain, bercengkrama, dan bercerita.

Tradisi Ramadhan yang Mulai Hilang
Saya tidak tahu mengapa saat ini saya tidak lagi menemukan tradisi berburu tanda tangan ketika selesai tarawih. Anak-anak juga tidak terlihat mengisi buku kegiatan Ramadhan yang biasa diberikan sekolah. Atau memang sekolah tidak lagi memberikan buku tersebut?

Adik saya yang duduk di kelas 4 SD juga belum mendapatkannya. sekolah yang tidak mengeluarkan, atau memang ia belum cukup umur untuk mengisinya.

Berbagai kegundahan melingkupi hati saya karena sangat disayangkan apabila tradisi ini benar-benar hilang. “Berburu” tanda tangan adalah cara yang efektif supaya anak-anak fokus terhadap ceramah yang sedang disampaikan imam. Walau beberapa dari mereka mungkin akan mencontek, setidaknya mereka tetap berusaha untuk menyalin dan sedikit banyak tahu apa makna yang terkandung dari ceramah tersebut.

Kebiasaan ini akan melatih otak anak untuk mencerna ucapan dan menulis dengan cepat, dimana hal tersebut akan sangat bermanfaat bagi kemampuan motoriknya ketika di sekolah.

BACA JUGA:  Jika Bisa Tetap Bersatu, Bangsa Kita Akan Tetap Berdiri Kokoh

Cara ini juga terbilang efektif untuk mencegah anak-anak hanya main pada saat ceramah. Hal ini akan meringankan tugas ibu ibu untuk memperingati anak-anak yang berisik. Dengan begitu, ceramah dan tarawih akan dijalankan dengan lebih khusu.

Lebih dari itu, sebenarnya tradisi ini adalah suasana indah yang akan dirindukan oleh mereka kelak ketika kelak tumbuh dewasa..( Alinda STN )