Fachri Hamzah : “Untuk Nyapres, Harus Punya Duit Otak Tidak Penting!”

3426

Jakarta, Inspirasi Post-

Diskusi terbuka dengan tema ” Milenial Kongkow Bareng “, yang di gagas oleh Himapol Indonesia dan Suara Milenial, Menghadirkan salah satu tokoh politik nasional yaitu Fahri Hamzah. Problem Presidenthial Threshold 20 % menjadi salah satu pokok pembicaraan awal , acara yang di adakan di Insomania Cafe yang berada di kawasan Ciputat ( 04 / 04 ) beberapa hari lalu.

Fachri Hamzah , Politisi Nasional ini mengatakan,

Menurutnya, aturan PT 20 % mempersempit kesempatan bagi sosok-sosok terbaik bangsa untuk ikut kontestasi dalam pemilihan presiden.

“PT 20 % adalah aturan yang dimunculkan oleh pihak eksekutif sebagai bentuk ketakutan eksekutif untuk menutup pintu kesempatan munculnya lawan yang lebih baik. Ini adalah bentuk problem penghancuran demokrasi!”, ujar politisi yang terkenal kontroversial ini disela sela diskusi.

 Kandidat harus berani bertatap muka dengan kelompok mahasiswa, para calon harus jelas ide dan visinya, dan menantang debat kandidat seluruh calon presiden harus dilaksanakan di setiap daerah Se-Indonesia.

Namun ketika di tanya siapa sosok calon presiden alternatif, Fahri tidak menyebutkannya.

“Saya takut ketika saya sebutkan di sini, calon saya tidak dapat tiket untuk nyapres. Tunggu tanggal mainnya aja. Di era sekarang, untuk nyapres, lu harus punya duit. Otak tidak penting!” tegasnya.

Disisi lain, Ketua Himapol Korwil III, Fitara Shaura Habibie, menjelaskan,

bahwa tujuan acara ini adalah untuk mencari sosok-sosok terbaik bangsa yang akan di tawarkan ke publik sebagai calon presiden alternatif.

“Kami berangkat dari kegelisahan teman-teman melihat sosok calon presiden yang hanya berkutat antara dua nama Jokowi dan Prabowo. Padahal bangsa ini tidak kekurangan stok pemimpin hebat. Persoalannya, tokoh-tokoh ini kurang terekspos oleh media sehingga publik tidak tahu. Jadi melalui kegiatan ini kami ingin mengkaji, memperkenalkan, lalu menawarkan ke publik”, ujarnya.

 Acara serupa juga akan dilaksanakan di berbagai kota lainnya, Dengan harapan, penguatan sistem demokrasi bisa berjalan dengan baik dan berkualitas.

” Ada peran penting yang dijalankan oleh kelompok milenial sebagai civil society guna meningkatkan partisipasi dalam politik sehingga kontestasi pemilu yang akan datang tidak hanya dibajak oleh elit-elit politik saja” ujarnya menambahkan.

( Rls / Red / Yudha Saputra )

BACA JUGA:  Terima ‘Grand’ Syekh Al Azhar, Ketua Dewan Pengarah BPIP Mengaku Bicara Soal Islam Moderat