‘ Catatan dari Kawan Seperjuangan ‘ Arkilaus Baho Yamakam

297

Ormas-ormas sektarian berhasil bikin radikalisme subur, ormas rasis bangkitkan rasisme subur, Nasionalisme masa lalu dengan nasionalisme etnis bersatu, membumihanguskan nasionalisme Progresif yang menjadi alat pemersatu bangsa Indonesia dan alat perlawanan kepada kolonialisme hingga mengusir penjajah masa kini yang dikenal imperialisme.
Perasaan senasib dan sependeritaan, kemanusiaan yang kokoh dan anti pada penjajahan manusia atas manusia lain, bangsa atas bangsa lain, semakin dikikis habis akibat kegoblokan aparat penegak hukum yang cenderung masuk dalam jebakan ormas sektarianisme dan sok sok nasionalis
Peristiwa rasis di asrama Papua Surabaya seharusnya tidak terjadi jika aparat menerapkan prosedur penanganan masalah bendera daripada terprovokasi dalam kemauan segelintir ormas yang mengakibatkan penyerbuan tak manusiawi ke asrama. Polisi terjebak dalam provokasi sehingga lupa bahwa ada prosedur pemanggilan, atau fokus pada pelaku penurunan bendera ketimbang ikut menyerbu.

Biasnya malah ikon monyet kini menjadi stigma pemersatu di Tanah Papua. Orang Papua dari berbagai kalangan, kini bersatu akibat teriakan monyet yang dilakukan oleh ormas di Surabaya.
Orde baru sudah selesai, tapi ajaran dan karakter orba masih terpelihara. Nasionalisme simbol dan sok sok nasionalisme dipakai oleh ormas tertentu untuk menolak keragaman budaya, karakter, warna kulit dan jenis rambut yang merupakan keragaman bangsa bangsa di Indonesia.

Jika Pemerintah ingin agar Pancasila sebagai ideologi pemersatu bangsa beserta nilai nilainya, tugas mendesak adalah mengubur ormas sektarian dan kaum rasis mengatasnamakan Pancasila. Mereka hanya melahirkan rasisme dengan bersembunyi dalam baju pemuda Pancasila atau memakai nama agama tertentu.

Orang Papua tidak akan pernah berniat mengganti ideologi Pancasila ke ideologi sektarian lainnya. Itu yang berbahaya bagi bangsa dan negara. Justru mereka yang teriak monyet gegara oknum yang meniadakan bendera, mereka itulah yang hendak mengganti ideologi negara ini.

BACA JUGA:  Presiden Jokowi Bermain Kuda Lumping Dengan Anak-Anak Dalam Jam Main Kita