Bagaimana Tatakelola Perusahaan Islami Yang Baik ‘Hadapi’ Pandemik Covid 19

247

 

Oleh : Efta Melvia

– Penulis adalah Mahasiswi Universitas  Islam Negeri Raden Intan Propinsi Lampung

Dunia bisnis yang dinamis menuntun perusahaan islami untuk fleksibel dan mampu merespon dengan cepat perubahan pasar. Terutama ketika dunia menghadapi pandemic Covid-19 seperti saat ini.

Perusahaan dituntut untuk secara konsisten menerapkan tata kelola perusahaan islami yang baik atau Islamic Corporate Governance (CG) agar dapat bertahan ditengah pasar yang terdisrupsi.
Menurut Bhatti dan bhatti, Islamic corporate governance (ICG) berusahan untuk menemukan cara di mana agen ekonomi, sistem hukum, dan tata kelola perusahaan dapat diarahkan oleh nilai-nilai moral dan sosial berdasarkan Hukum syariah. Pendukungnya percaya bahwa semua kegiatan ekonomi, perusahaan, dan bisnis harus didasarkan pada paradigma ethareligius, dengan satu-satunya tujuan untuk menjaga kesejahteraan individu dan masyarakat secara keseluruhan.
Implementasi dan keberlanjutan ICG sangat penting untuk memastikan bahwa perusahaan berjalan secara efektif dan efisien sehingga kesehatannya terjamin.

Suatu perusahaan islami dikatakan memiliki tata kelola yang baik jika mematuhi tiga prinsip berikut : akuntabilitas, keadilan, dan transparasi.
Namun, jalan untuk menerapkan tata kelola perusahaan yang lebih baik tidak selalu mulus. Kendala seperti kurangnya integritas individu karyawan atau pihak di luar perusahaan dapat menyebabkan meningkatnya risiko terjadinya fraud dan akan berdampak pada kesehatan perusahaan.

Terlebih lagi, farud yang terjadi kerap tidak terdeteksi karena manajemen perusahaan tidak mengetahui praktik-praktik ini. Namun, karyawan tingkat bawah lah sering mengetahui tanda-tanda dan bahkan menyaksikan secara langsung skema fraud yang sedang berlangsung.

Cara perusahaan islami dalam menghadapi pandemic Covid-19 ini dengan memberlakuka Sistem whistleblowing untuk mewujudkan tata kelola yang baik
Dengan menerapkan sistem whistleblowing, perusahaan pada dasarnya akan berpegang pada prinsip transparasi. Melalui sistem whistleblowing, karyawan dapat menyampaikan kekhawatiran terkait tanda-tanda penipuan yang telah mereka saksikan atau alami dengan jaminan anonimitas.

BACA JUGA:  Hari Ini Jalur Kereta Api Mulai ' Beroperasi ' Normal

Sistem whistleblowing sejauh ini merupakan alat yang paling efektif untuk mendeteksi penipuan. Menurut ACEF’s 2018 Report to The Nations, pelaporan sejauh merupakan cara yang paling umum untuk mendeteksi penipuan dengan sebanyak 40% dari kasus farud yang dipelajari.

( Redaksi )