Agat Rekanan PT Timah Sempat Ditanyain Soal Duit Untuk Forwaka ?

213

Pangkalpinang – Pemeriksaan terhadap salah satu kolektor timah Agustino als Agat telah berlangsung Selasa lalu. (9/6). Dari penelusuran wartawan, dalam pemeriksaan tersebut Agat tidak saja diperiksa hanya perihal kemitraan perusahaan miliknya dengan PT Timah selaku pemasok pasir timah kadar rendah atau sisa hasil pengolahan (SHP) semata.

Tetapi dikabarkan cukong timah Jebus ini juga sempat disinggung perihal dirinya yang telah memberikan sejumlah uang pada bulan puasa lalu kepada Pokja wartawan Forum Kejaksaan (Forwaka) Bangka Belitung.

Uang yang disebut-sebut senilai Rp 150 juta itu untuk meredam banyak media yang memberitakan dugaan keterlibatan dari Agat yang telah merugikan keuangan negara mencapai Rp puluhan milyar. Kabarnya Agat sangat terganggu dengan pemberitaan tersebut sehingga atas kedekatanya dengan RS selaku ketua Forwaka sehingga diharapkan bisa terkondisikan. Gayung bersambut, RS, menyanggupi harapan sang cukong itu.

Namun kemudian, entah kenapa justeru berujung pada blunder. Dimana puncaknya 3 dewan penasehat (Wanhat) Forwaka Kejaksaan Tinggi Bangka Belitung yang berlatar belakang pimpinan media mainstream justeru mengundurkan diri dari Forwaka. Pengunduran diri tersebut terang menderang dengan dimuat langsung di sebuah pemberitaan media online. Tidak cukup disitu, justeru pemberitaan terkait Agat kian menggelegar. Begitu juga dengan anggota Forwaka lainya dari kalangan wartawan ramai-ramai mengundurkan diri.

“Wartawan kan lebih tahu di lapangan (soal uang). Kan yang meramaikan awal (soal pemberian uang kepada wartawan Forwaka itu) kawan-kawan media juga. wartawan lebih tahu,buktinya berita sudah dimuat semuanya. Tapi kalau soal itu (agat ngasih uang ke Forwaka) biar yang menyikapinya di Penkum dan intelijen saja,” kata sumber wartawan itu seraya melepaskan senyum penuh makna, Rabu (10/06/2020).

“Yang jelas betul Agat telah kita periksa dalam kapasitasnya sebagai mitra PT Timah itu,” lanjutnya.

BACA JUGA:  Perpisahan Siswa-Siswi SMAN 1 Metro, Kemilau Bintang Menuju Masa Depan

Kental sorotan publik terhadap boroknya moralitas wartawan Forwaka kian menjadi-jadi. Pengurus pentolan Forwaka Kejaksaan Tinggi Bangka Belitung tak ada satupun yang hadir guna meliput ekspos 2 prestasi penyidikan yang telah dilakukan Kejaksaan Tinggi Bangka Belitung yang dikomando Ranu Mihardja. Yakni perkara korupsi di tubuh PT Timah TBK dan BRI Cabang Pangkalpinang. Adapun yang meliput saat itu hanyalah dari media mainstream dan wartawan online di luar Forwaka.

Tidak hanya itu soal Agat diperiksa penyidik, ternyata, Forwaka juga tak ada memuat pemberitaan. Maka dengan begitu semakin komplit pembenaran atas buruknya moralitas pengurus inti Forwaka yang telah dibentuk justeru oleh Kasi Penkum Kejaksaan Tinggi Bangka Belitung yang lama yakni Roy Arland itu.
Seperti yang sudah diberitakan selama ini Agat selaku kolektor dari Jebus, Bangka Barat masuk ke dalam pusaran perkara korupsi ini melakukan modus memanipulasi legalitas dan administrasi perusahaan dengan cara memainkan boneka. Ini dilakukanya agar bisa cuci tangan di saat terjadinya persoalan hukum seperti saat ini. Adapun boneka yang dimainkan sebagai Direktur adalah tak lain sang sopir.

Sejak 29 Mei 2020 penanganan perkara korupsi oleh Pidsus Kejaksaan Tinggi Bangka Belitung atas pembelian bijih timah kadar rendah oleh PT Timah Tbk yang tidak sesuai ketentuan resmi naik ke penyidikan.

Kajati Ranu Miharja, naiknya status ke penyidikan ini sebagai upaya untuk mencari alat barang bukti, sekaligus untuk menetapkan tersangka.

“Kalau diproses penyelidikan saya sudah menetapkan tersangka atau bersama-sama ketika naik proses penyelidikan itu ke penyidikan berarti dianggap saya melanggar hukum. Bagaimana mungkin kita bisa menetapkan tersangka sementara alat buktinya belum di temukan,” kata Ranu Miharja.

BACA JUGA:  Distribusi Bantuan Sembako dari Kemenparekraf Kepada Masyarakat Srijaya Terdampak Covid 19

“Kalau sudah ada 2 alat bukti otomatis nanti akan ditemukan tersangkanya. Dari proses penyelidikan ke penyidikan itu untuk mencari peristiwa. Apakah peristiwa saat itu peristiwa pidana atau bukan ternyata ada peristiwa pidana makanya dinaikan ke penyidikan,” ujar mantan Direktur Penuntutan KPK.

Dia katakan tim penyidik yang dikomando olehnya akan bekerja profesional dan penuh integritas. Maka dari itu dia berharap agar masyarakat dapat memberikan dukungan penuh.

“Oleh karena itu tolong sama-sama kita jaga, biarkan penyidik bekerja sebagaimana yang diharapkan masyarakat tentunya bekerja sesuai dengan koridor hukum. Jangan sampai menegakkan hukum dengan cara melawan hukum, biarkan proses berjalan beri kesempatan kepada penyidik untuk bekerja sebaik-baiknya,” Pungkasnya.. (Red/Rik)